SEDINGKLIK ONGKLAK-ANGKLIK

Minggu, 16 Mei 2010

Purwadi: Religius itu Suguh, Aruh, Gupuh


[Wawancara oleh Pers Mahasiswa]

Pra taruna angudiyo

Saniskara sangune sagung dumadi

Marsudi ing kawruh

Kang akeh gunane

Bisane sembada tlatenana

“Thalabul Ilmi faridatul ‘alal muslimin wal muslimat”


//Para pembelajar belajar /segala hal untuk bekal kehidupan/mendalami pengetahuan/ yang memiliki banyak kegunaan/agar dapat berguna dan digunakan dalam kehidupan jangan menyerah dan giatlah// Kurang lebih demikian arti pesan yang ditembangkan Prof. Dr. Purwadi saat ditemui reporter Pewara Dinamika, Dhian Hapsari, siang (26/4) di Pendopo Tejokusumo, Fakultas Bahasa dan Seni.


Pesan ini hanya sekelumit petikan wawancara tentang religiusitas di kampus. Selanjutnya dosen yang telah menulis banyak buku dan memiliki lingkar diskusi spiritual Jawa ini juga menjabarkan bagaimana praktek religiusitas yang seharusnya dilakukan. Religiusitas ini dipandang dari kacamata Purwadi yang bukan melulu berhubungan dengan transendental, tetapi juga bagaimana praktek religiusitas secara umum di dalam kampus.


Apa yang dimaksud religiusitas?

Religiusitas praktek kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai agama. Secara semantik, a tidak, gama kacau. Segala tata nilai yang bernafaskan pada agama barang tentu terhindar dari segala kekacauan.


Seberapa pentingkah religiusitas dalam membentuk civitas akademika UNY yang cendekia, mandiri, dan bernurani.

Kita berpangkal tolak pada sisi kosmologis. Kampus UNY berada di Karangmalang, boyo pakewuh, tidak takut mehadapi rintangan untuk menuju Kuningan, itu masa keemasan. Kuning. Kuning itu emas sinangkling. Untuk menuju kemuliaan itu tidak boleh takut menghadapi rintangan. Tumuju marang kamulyan ora alus dalane, akeh sandungane. Neng sopo temen bakal tinemu. Sesungguhnya ini patut direnungkan bahwa alam ini media pembelajaran kita. Apa yang ada di dalam kehidupan ini pembelajaran agar dapat mematangkan kita menjadi insan yang cendekia, mandiri, dan bernurani.


Seberapa pentingkah religius dalam kehidupan?

Religiusitas itu tetap bernilai penting untuk mengimbangi kehidupan jasmaniah yang materialistis. Maka dalam terminologi Tatanegara benar adanya monodualis yaitu Jiwa raga, cipta rasa, karsa karya, lahir batin, awal akhir. Semua itu akan menggenapi dunia. Religiusitas berorientasi pada kehidupan yang genap dan genah, terang wijang. Begitu pula antara agama dan budaya itu komplementer sifatnya. Saling melengkapi. Seperti juga makhluk dengan Tuhan itu bukan sebuah perbandingan, melainkan terminologi dengan orientasi dan eksistensi yang berbeda. Dengan demikian sungguh paham keliru manakala ada yang mengkontraskan antara agama dan budaya. Pengkontrasan ini biasanya berangkat dari pemahaman yang deviasi, sebuah penyimpangan terminologi yang mengkontraskan antara agama dan budaya dalam beranalisa.


Apakah religiusitas itu dapat mendorong prestasi?

Religiusitas, spiritualitas nilai batiniyahnya sesungguhnya orang hidup kalau beraninya cuma mudah, takut karena susah maka segala program akan kandas. Mudah dan susah pada hakekatnya tidak ada. Itu cuma mengada-ada barang yang tidak ada.

Prestasi itu dapat diraih dengan ketekunan, bukan hanya dengan religiusitas. Ilmu itu dicari dengan tekun, maka prestasi akan mengikuti dengan sendirinya.


Bagaimana dengan civitas akademika yang berprestasi, tetapi tidak diimbangi dengan religiusitas?

Sekuleritas dan religiusitas itu berbeda. Jangan-jangan mereka yang religius justru areligius, atau yang sekuler itu justru asekuler. Kan malah repot. Untuk itu janganlah saling mengolok-olok antara satu kaum dengan kaum yang lain. Alhamdulillah di kampus ini terbentuk religiusitas yang mengagumkan, meski kadangkala religiusitas itu hanya sebatas yang dibicarakan, bukan yang dipraktekkan.


Lantas bagaimana praktek religius dalam kehidupan kampus ini?

Religius itu saling menghormati. Bagaimana satu orang dengan orang lain dapat menghargai dan tidak saling mengolok-olok. Bukankah orang yang beragama itu juga melaksanakan apa yang diajarkan dalam agamanya? Mencintai sesama, merawat alam, dsb.

Masak di kampus naik motor kok ngebut! Itu tidak religius. Masak di kampus naik motor, katanya religius habis memberi kajian di kampus, membuang polusi motornya di mana-mana. Masak katanya religius buang ludah sembarangan. Itu kan tidak religius. Hal-hal sederhana saja yang dilakukan itu sudah mencerminkan religiusitas seseorang. Bertegur sapa yang baik, menjaga alam dengan kebersihan, menghormati apapun yang ditemuinya sehari-hari. Katanya religius kok masih buang sampah sembarangan, parkir sembarangan kan dapat mengganggu pandangan. Itu sama artinya mengganggu orang lain. Tidak religius!


Kalau secara pribadi, apa makna religius dalam kehidupan Anda?

Religius itu bagaimana kita dapat suguh, aruh, gupuh marang konco. Artinya kita dapat menyuguh entah itu memberi makanan atau minuman pada kawan, kemudian menjualkan kemampuan kawan atau mempromosikan kawan, dan bagaimana dapat membantu jaringan. Jaringan antar kawan itu penting. Kalau sudah dapat suguh, aruh, lan gupuh kehidupan ini akan begitu damai.

Religiusitas itu kan bertujuan untuk kedamaian, namun kebanyakan dari kita tahu apa itu makna religius, tahu nilai-nilai religius tapi prakteknya bisa menjadi sekuler. Praktek religius begitu kurang karena adanya kepentingan atau rasa kurang menghormati sesamanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar