SEDINGKLIK ONGKLAK-ANGKLIK

Minggu, 16 Mei 2010

AGAMA AGEMING AJI


Oleh : Dr. Soetrisno R., M.Si.
Ketua Lembaga Javanologi Jawa Timur

A. Pamoring Kawula Gusti
Pangkur
Mingkar mingkuring angkara,
Akarana karenan Mardi siwi,
Sinawung resmining kidung.
Sinuba sinukarta,
Mrih ketarta pakartining ngelmu luhung
Kang tumrap ing tanah Jawa,
Agama ageming aji.

Agama berasal dari kata a yang artinya tidak, dan gama yang artinya rusak. Suatu keyakinan bila dipatuhi ajarannya tidak akan membuat pribadi dan masyarakat rusak. Agama dalam pandangan orang Jawa sama dengan busana, atau ageman yang berarti pakaian. Aji artinya raja atau mulia. Warga negara yang mulia tentu akan memperhatikan ajaran agama, ajaran leluhur sebagai yang tertera dalam Kitab Suci. Kewibawaan seorang pemimpin yang dituntun oleh ajaran agama akan terbebas dari perbuatan aniaya, nista dan hina yang dapat meruntuhkan derajat dan martabatnya.
Prinsip kepemimpinan terhadap orang Jawa menuntut agar pemimpin selain memimpin secara formal juga pemimpin agama agar berkah dan adiluhung di depan pengikutnya. Kepemimpinan yang agamis selalu mementingkan kepentingan orang banyak dan menyantuni orang lemah. Mereka inilah ynag membuat pemimpin menjadi aji 'berharga'. Pada hakekatnya, orang Jawa lampau tidak membedakan antara sikap-sikap religius dan buan religius. Bahkan interaksi-interaksi sosial sekaligus merupakan sikap terhadap alam. Sebaliknya sikap terhadap alam sekaligus mempunyai relevan sosial. Antara pekerja, interaksi dan doa tidak ada perbedaan prinsip hakiki (Fachry Ali, 1986). Dengan demikian, lingkungan dalam pandangan Jawa masa lampau menjadi sesuatu yang amat penting. Dia merupakan basis kehidupan yang meliputi individu, masyarakat dan alam sekitarnya. Kesemua unsur lingkungan itu menyatu dalam alam adi kodrati (supernatural).
Pentingnya lingkungan ini adalah sebab, kelanjutan dan konttiunitas kehidupan sepenuhnya terletak atau berada dalam lingkungan. Keteraturan ini sendiri merupakan refleksi dari konsep sistem kepercayaan Jawa, yang mengemukakan bahwa kehidupan yang terkoordinasi antara manusia danalam sekitarnya merupakan sistem kehidupan yang didambakan. Pamoring kawula Gusti merupakan konsep kejawen yang amat terkenal di kalangan masyarakat Jawa. Kata pamor terbentuk dari kata amor yang berarti berkumpul, bersatu, manunggal. Kawula berarti rakyat, tenaga pelaksana. Dalam konteks ini berarti badan wadag, jasmani. Gusti artinya raja, pemberi perintah, boss, pemimpin yang dalam konteks ini berarti rohani atau batin. Idiom tersebut berarti bersatunya jasmani dan rohani. Pada tembang Wulangreh juga tertulis pamore gusti kawula.
Kasunyatan adalah realitas sehati, jelas dan self evident, menjadi sebab akibatnya sendiri. Dalam konteks pemahaman dan pandangan semacam inilah posisi narendra dan kraton menjadi sangat penting. Seperti telah dikemukakan di atas, narendra merupakan pusat mikro-kosmos kerajaan dan duduk di puncak hikaris status. Dengan demikian, narendra merupakan pusat perhimpunan kekuasaan. narendra dalam hal ini dibayangkan sebagai “pintu air yang menampung seluruh air sungai”. Dan bagi tanah yang lebih rendah, merupakan satu-satunya sumber air dan kesuburan”. Sementara kraton merupakan institusi pendamping dalam proses pemusatan itu. Sebab bagi kraton merupakan institusi pendamping dalam proses pemusatan itu.

B. Sistem Epistemologi Ilmu Kejawen
Serat Wulangreh sampai saat ini sangat populer di lingkungan kebudayaan Jawa. Di petang hari, baik di desa-desa, maupun di pinggiran kota banyak penduduk mendendangkan lagu dari Wulangreh. Banyaklah jasa dari peninggalan Sri Susuhunan Paku Buwana IV yang diwariskan pada keluarga kraton dan kepada rakyat umum. Mereka memperoleh keuntungan ganda. Sambil gembira berdendang, mereka dapat meresapi dan mempelajari pesan makna yang terpendam di dalam rangkaian kata-kata Kawi dan Jawa yang indah itu yang diajarkan beliau.
Orang Jawa sangat memperhatikan ajaran-ajaran dalam Serat Wulangreh itu untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketajaman moral dan intelektual diperlukan agar manusia tepat dalam meniti karier hidup. Paku Buwana IV memberi petunjuk orang yang mencari ilmu dalam Serat Wulangreh sebagai berikut:
Sasmitaning ngaurip puniki,
yekti ewuh yen nora weruha
tan jumeneng ing uripe,
sakeh kang ngaku-aku,
pangrasane pan wus utami,
tur durung wruh ing rasa,
rasa kang satuhu,
rasaning rasa punika,
upayanen daraPon, sampurneng dhiri,
ing kauripanira.

Jroning Qur’an nggoning rasa jati,
nanging pilih wong kang uningaa,
anjaba lawan tuduhe
nora kena binawur,
ing satemah nora pinanggih,
mundhak katalanjukan,
temah sasar susur
yen sira ayun waskitha,
kasampurnaning badanira puniki,
sira anggegurua.
(Pupuh Dhandhanggula, pada 2-3)

Terjemahan :

Makna kehidupan itu
sungguh sayang bila tak tahu
tidak kokoh hidupnya,
banyak orang mengaku,
perasaannya sudah utama,
padahal belum tahu rasa,
rasa yang sesungguhnya,
hakikat rasa itu adalah,
usahakan supaya diri sempurna,
dalam kehidupan.

Dalam Qur’an tempat rasa jati,
tapi jarang orang tahu,
keluar dari petunjuk,
tak dapat asal-asalan,
akhirnya tidak ketemu,
malahan terjerumus,
akhirnya kesasar,
kalau kamu ingin peka,
agar hidupmu sempurna,
maka bergurulah.

Kriteria guru yang baik menurut Paku Buwana IV disampaikan dalam Serat Wulangreh. Paku Buwana IV menganjurkan agar seseorang mencari guru yang mempunyai kejelasan asal-usul, baik martabatnya, tahu hukum, beribadah, bersahaja, pertapa, ikhlas, dan tanpa pamrih terhadap pemberian orang lain.
Nanging yen sira nggeguru kaki,
amiliha manungsa kang nyata,
ingkang becik martabate,
sarta kang wruh ing khukum,
kang ibadah lan kang wirangi,
sokur oleh wong tapa,
iya kang wus mungkul,
tan mikir piwewehing liyan,
iku pantes yen den guronana kaki,
sartane kawruhana.

Lamun ana wong micara ilmi,
tan mufakat ing patang prakara,
aja sira age-age,
anganggep nyatanipun,
saringana dipun baresih,
limbangen kang patang,
prakara rumuhun,
dalil hadis lan ijmak,
lan kiyase papat iku salah siji,
adate kang mufakat.

Ana uga kena den antepi,
yen ucula kang patang prakara
enak eca legatane,
tan wurung tinggal wektu,
penganggepe wus angengkoki,
aja kudu sembahyang,
wus salat katanggung,
banjure mbuwang sarengat,
batal karam nora nganggo den rawati,
mbubrah sakehing tata.
(pupuh Dhandhanggula, pada 4-6)

Terjemahan :

Namun apabila kamu berguru
pilihlah manusia nyata
yang baik martabatnya
serta tahu hukum
yang beribadah dan sederhana
syukur dapat pertapa
yang sudah menanggalkan
pamrih pemberian orang
itu pantas kamu berguru
serta ketahuilah

Kalau ada orang bicara ilmu
tak setuju empat perkara
jangan cepat-cepat
percaya padanya
saringlah yang teliti
pertimbangkan empat hal
perkara terdahulu
dalil hadis dan ijma’
dan keempat qiyas semua
telah disepakati

Ada juga yang mantab
kalau tepat empat perkara
sungguh tidak tepat
hanya meninggalkan waktu
menganggap sudah tepat
hendak tidak shalat
hanya bikin tanggung
lalu membuang syariat
batal haram tak peduli
lalu bikin kacau

Sebagaimana yang diketahui, kitab yang selesai ditulis pada hari Ahad tanggal 19 Besar 1735 tahun Dal Windu Sancaya Wuku Sungsang atau tahun 1808 Masehi ini, pada mulanya merupakan serat wewelar (pedoman/ penuntun) bagi para pangeran dalam bentuk Sekar Macapat atau nyanyian yang dimasukkan dalam rumpun Macapat (Fachry Ali, 1986). Sesuai pula dengan tujuan kitab ini sebagai penuntun atau ideologi kraton. Kebutuhan untuk mempertahankan idiologi tersebut tampaknya sangat jelas terkait dengan situasi-situasi kekuasaan pada masa itu.
Dalam bidang ketuhanan, pemikiran narendra agung yang mendapat julukan Sunan Bagus ini berusaha untuk mengungkapkan sasmitaning ngaurip atau hakikat kehidupan. Untuk dapat memahami hakikat kehidupan perlu diketahui sumber kebenaran tertinggi atu nggoning rasa jati. Sinuwun Paku Buwana IV mengatakan dengan haqul yakin bahwa rasa jati itu terdapat dalam Kitab Suci Al Qur’an. Pengkajian ilmu dalam Al Qur’an dilalui dengan proses berguru. Berbicara tentang ilmu, beliau amat menekankan adanya struktur berjenjang, yaitu dalil, hadis, ijmak dan qiyas. Keempat sistem epistemologi keagamaan tersebut sesuai dengan tradisi konvensi ahlus sunnah waljama’ah.

C. Ajaran Kesusilaan Jawa
Masyarakat Jawa menyebut ajaran kesusilaan dengan istilah pepali, unggah-ungguh, suba sita, tata krama, tata susila, sopan santun, budi pekerti, wulang wuruk, pranatan, pituduh, pitutur, wejangan, wulangan, wursita, wewarah, wedharan, duga prayoga, wewaler, dan pitungkas. Orang Jawa akan berhasil hidupnya dalam bermasyarakat kalau dapat empan papan, kalau dapat menempatkan diri dalam hal unggah-ungguhing basa, kasar alusing rasa, dan jugar genturing tapa. RMP Sosro Kartono, kakak kandung RA Kartini merumuskan ajaran moralnya dengan ungkapan anteng meneng sugeng jeneng. Pesan-pesan moral dalam masyarakat Jawa disampaikan lewat media seni, dongeng, tembang, pitutur, piweling para orang tua secara turun-temurun. Hal ini bisa dilacak dengan banyaknya sastra piwulang.
Ungkapan tradisional seperti sing becik ketitik sing ala ketara, titenana wong cidra mangsa langgenga dan sura dira jayaningrat lebur déning pangastuti menunjukkan bahwa eksistensi dan esensi moralitas dijunjung tinggi dalam budaya Jawa. Kebanyakan agama yang universal juga mengajarkan sikap hormat terhadap kehidupan manusia. Dalam Islam dianjurkan praktek agama dengan rahmatan lil alamin. Sedangkan dalam budaya Jawa dikenal memayu hayuning bawana, yang berarti ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian dan keadilan abadi.
Dimensi sosial nilai-nilai etis memberikan suatu kadar objektif yang jarang terdapat dalam bidang kreativitas yang pada dasarnya bersifat pribadi. Objektivitas ini merupakan suatu prasyarat bagi universalitas nilai-nilai etis (Shah, 1986). Sinuwun Paku Buwana IV menerangkan arti penting kesusilaan dalam Serat Wulang Reh.
Mijil

Dedalané guna lawan sekti,
kudu andhap asor,
wani ngalah luhur wekasané,
tumungkula yen dipun dukani,
bapang den simpangi,
ana catur mungkur.

Terjemahan
Menuju kepandaian dan kesaktian,
harus mau rendah hati,
berani mengalah luhur akhirnya,
merunduklah bila kena marah,
penghalang dihindari,
sumber bencana ditinggalkan.

Arti penting moral juga terpatri dalam epitaph makam Imannuel Kant: Cellum stellatum supra me, lex morralis intra me, yang berarti begitu cemerlang bintang-bintang di angkasa raya, demikian pula moral susila di dada manusia (Damardjati Supadjar, 1993). Bidang falsafah pewayangan tampaknya penggambaran sifat-sifat berbudi luhur atau perilaku yang bermoral terdapat pada para tokoh wayang yang diteladankan. Kawruh sangkan paraning dumadi, satataning panembah, kawruh jumbuhing kawula gusti, ngelmu kasampurnan, ngelmu kasunyatan dan sebagainya sering ditampakkan pada setiap pagelaran wayang atau cerita-cerita dalam kesusasteraan Jawa (Haryanto, 1992). Dalam pagelaran wayang banyak dijumpai ajaran-ajaran tentang keutamaan sejati.

D. Pembinaan Kepribadian Paripurna
Para pujangga merupakan pembina kepribadian yang tangguh. Mereka adalah Empu Kanwa, Empu Sedah, Empu Panuluh, Empu Darmaja, Empu Triguna, Empu Manoguna, Empu Prapanca, Empu Tantular, Yasadipura, Ranggawarsita, Paku Buwana IV, Sri Mangkunegara IV, Kyai Sindusastra, Kyai Kusumadilaga, Ki Padmasusastra, Ki Ageng Suryamentaram dan Ki Nartasabda. Kepustakaan Jawa karya para pujangga tersebut sering dipakai sebagai referensi oleh para seniman sering dilantunkan oleh waranggana sewaktu pentas wayang purwa. Karya sastra yang menjadi referensi seniwati waranggana dan niyaga dalam pentas wayang purwa itu di antaranya: Serat Wulangréh, Wédhatama, Tripama, Kalatidha, dan Pustaka Raja Purwa (Hazim Amir, 1994).
Serat Wulangréh (1925) juga sering dilantunkan waranggana dan Niyaga, karena isinya ini banyak memberikan ajaran moral kepada masyarakat umum. Serat Wulangréh merupakan karya sastra yang mengandung nilai filosofis. Poerbatjaraka (1957) mengatakan bahwa Serat Wulangréh sangat diperhatikan orang Jawa dalam kehidupan sehari–hari :
Kinanthi
padha gulangen ing kalbu
ing sasmita amrih lantip
aja pijer mangan nendra
kaprawiran dén kaesthi
pesunen sarira nira
cegah dhahar lawan guling
(Serat Wulangréh, pupuh Kinanthi, pada 4)

Terjemahan
sebaiknya merenung, dalam hati
supaya mendapat ketajaman batin
jangan hanya makan dan tidur
kesatrian itu perlu diusahakan
orang harus mengendalikan diri
dengan mengurangi makan dan tidur

Serat Wulangreh menganjurkan kepada manusia untuk berolah dan berlatih mengendalikan hawa nafsu, sehingga mendapatkan rasa peka terhadap pernik–pernik kehidupan serta petunjuk Tuhan. Jangan hanya suka kesenangan duniawi yang menyesatkan, bahkan dianjurkan untuk mengurangi dan mengendalikan diri terhadap kesenangan yang bersifat duniawi. Sistem pendidikan Kraton Jawa diarahkan agar para keluarga Kraton selalu memiliki kepribadian yang paripurna.


DAFTAR PUSTAKA

Damardjati Supadjar, 1993. Nawangsari. Yogyakarta : Widyatama.
Fachry Ali, 1986. Etika Pemerintahan dalam Perspektif Budaya Jawa. Jakarta : Cides.
Hadiwirjanto, 2002. Serat Wulangreh dan Terjemahannya. Pendidikan Budi Pekerti, Karya Sri Susuhunan Paku Buwana IV. Yogyakarta : SDP.
Haryanto, 1992. Bayang-bayang Adiluhung. Jakarta : Djambatan.
Hazim Amir. 1994. Nilai-Nilai Etis dalam Pewayangan. Jakarta: Sinar Harapan.
Moedjanto, 1994. Konsep Kekuasaan Jawa, Penerapannya oleh Raja-Raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius.
Mulyono, 1989. Simbolisme Mistikisme dan Filsafat Wayang. Jakarta : Gunung Agung.
Poerbatjaraka, 1957. Kapustakan Jawi . Jakarta : Djambatan.
Ruspana, 1986. Etika Pemerintahan Menurut Filsafat Jawa Wulangreh Paku Buwana IV. Jakarta : Antarkota.
Shah, 1986. Metodologi Penelitian. Jakarta : Obor.
Soetrisno, 2004. Wayang Sebagai Ungkapan Filsafat Jawa. Yogyakarta : Adityo Pressindo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar