SEDINGKLIK ONGKLAK-ANGKLIK

Minggu, 16 Mei 2010

ASPEK SOSIAL BUDAYA MASA PEMERINTAHAN SRI SULTAN HAMENGKU BUWANA V




Oleh : Djoko Dwiyanto

A. Pengantar
Pada tanggal 7 Oktober 1756, Sri Sultan Hamengku Buwana I mulai menempati Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, setelah sejak 5 April 1755 dimulai pembukaan Hutan Pabringan. Penyelesaiannya ditandai dengan sengkalan Dwi Naga Rasa Tunggal, yang menunjukkan tahun 1682 J dan yang mengungkapkan makna yang tersirat: Sari-Rasa-Tunggal (artinya: Hakikat Kesatuan) dan Sarira-Satunggal (yang berarti: Kepribadian). Selanjutnya tanggal 7 Oktober itu diperingati sebagai Hari Jadi Kota Yogyakarta (Damardjati, 1993).
Sebuah peringatan hari kelahiran yang tidak lupa dengan hari kebatinan, sebagai ungkapan ikhlas lahir batin. Dibangunnya kota Ngayogyakarta di Hutan Beringan hal ini ada sejarahnya. Tempat ini pernah merupakan kota kecil yang indah di mana ada istana pasanggrahan yang disebut Garjitawati. Pada jaman pemerintahan Paku Buwana II pasanggrahan ini diberi nama Ngayogya dan dipergunakan sebagai tempat pemberhentian jenazah para raja yang akan dimakamkan di Imogiri. Untuk mengabdikan nama itu, ibukota daerah Sultan Hamengku Buwana I diberi nama Ngayogyakarta (Budiono Heru Satoto, 1987). Ngayogyakarta berasal dari dua kata yaitu Yogya dan Karta. Yogya berarti pantas, terhormat, indah, bermartabat, mulia. Karta berarti perbuatan, karya, amal. Dengan demikian Ngayogyakarta berarti tempat indah yang selalu dibuat bermartabat dan terhormat.
Ibukota atau kota istana tidak hanya merupakan pusat politik dan kebudayaan, melainkan juga sebagai pusat magis kerajaan. Berhubung jagat raya, yang menurut kosmologi Brahman atau Budhis atau keduanya, berpusat di Gunung Meru, maka kerajaan, yang merupakan jagat kecil, harus pula memiliki Gunung Meru pada pusat kotanya, dan Gunung Meru di pusat kota ini akan menjadi pusat magisnya (Darsiti, 2000). Orang Jawa menyebut ibukota kerajaan dengan istilah negara. Pulang dari ibukota berarti pulang dari negara.
Negara kosmis sangat erat hubungannya dengan konsep raja yang bersifat dewa, yaitu anggapan bahwa raja adalah titisan atau keturunan dewa. Konsep raja-dewa atau ratu-binathara ini pada periode kerajaan Islam tidak menempatkan raja pada kedudukannya yang sama dengan Tuhan, melainkan sebagai khalifatullah, sebagai wakil Tuhan di dunia. Namun demikian, penurunan kedudukan ini tidak mengubah kekuasaan raja terhadap rakyatnya. Contoh, Sultan Hamengku Buwana VIII dianggap oleh rakyatnya sebagai titisan Sang Hyang Wisnu.
Soal pemberian nama dan pemilihan tempat untuk ibukota kerajaan di jaman dulu, selalu dipersiapkan secara matang baik lahir maupun batin. Di jaman raja-raja dulu, membangun kraton bagi raja selalu diawali dengan penyelidikan seksama mengenai: letak daerahnya, hawa udaranya, kesuburan tanah, keindahannya, keamanannya baik terhadap bencana alam maupun terhadap serangan musuh. Mengingat bahwa Sultan Hamengku Buwana I dalam sejarah selalu dikenal sebagai orang yang pandai serta ahli dalam membangun, tentu juga telah mengadakan pengamatan lahir dan batin sebelum memerintahkan membangun Kraton Yogya sebagaimana yang kita lihat sekarang (Kustiniyati, 1982). Untuk penyelenggaraan pembangunan dan perhelatan yang penting, orang Jawa mesti mencari dina (hari) yang baik. Makalah ini lebih lanjut akan membahas aspek sosial budaya pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana V.

B. Pemerintahan Hamengku Buwana V
Keagungan Sultan Hamengku Buwana V sebagai raja Yogyakarta itu dapat dicerminkan dalam pagelaran wayang purwa seperti berikut:

narendara ingkang kinasih ing dewa,
kinawula ing widadari,
cinedhak ing brahmana,
lan kinacek sesamaning narendra.
Narendra guna ing aguna,
tan ngendhak gunaning janma,
paring payung kang kudanan,
paring teken kang kelunyon,
paring obor kang kepetengan

Terjemahan:

Raja yang dikasihi para dewa,
diperhamba bidadari,
dekat dengan ulama,
dan disegani sesama raja.

Raja yang menguasai pengetahuan luas,
namun tak merendahkan pengetahuan orang lain,
memberi payung orang yang kehujanan,
memberi tongkat orang yang kelicinan,
memberi pelita orang yang kegelapan

Hamengku Buwana V menggantikan Hamengku Buwana IV. Ia diangkat menjadi sultan pada bulan Desember 1822, juga masih anak, dan berumur lebih kurang 3 tahun, dengan Dewan Perwalian yang terdiri dari neneknya perempuan, ibunya, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Diponegoro.
Inilah kedua kalinya seorang anak yang masih muda sekali menjadi Sultan. Inilah pula kedua kalinya terjadi perbuatan yang menyakitkan hati Pangeran Diponegoro. Ahli-ahli sejarah mengatakan, bahwa salah satu sebab dari peperangan Diponegoro ialah pengangkatan Djarot dan Menol menjadi Sultan dengan tidak memperdulikan haknya Diponegoro.
Tak lama kemudian Pangeran Diponegoro meletakkan “jabatannya” sebagai anggota Dewan Perwalian. Pada Hari Rabu, tanggal 20 Juli 1825, beliau menjadi pemberontak. Dibantu oleh Kyai Mojo dan Sentot Prawirodirdjo, beliau mengadakan suatu gerakan yang mencari keadilan. Pada tanggal itu meletuslah suatu peperangan ekonomis dan politis, suatu peperangan suksesi (bertalian dengan pengganti raja) yang menggemparkan seluruh pulau Jawa selama 5 tahun, peperangan yang membingungkan dan merugikan Belanda.
Dengan peperangan ini mulailah suatu episode dalam sejarah Indonesia, penuh dengan kesukaran dan kesulitan bagi rakyat, akan tetapi yang merupakan suatu babak yang memperlihatkan keinginan dan tekad bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dan untuk hidup dalam suasana merdeka.
Dinasti Mataram memang ahli dalam olah cipta budaya. Maka tidak mengherankan kalau para keturunan raja Mataram mendapat predikat sebagai raja pinandhita, nalendra sudibya, yang produktif dalam hal menciptakan kualitas peradaban.
Berbeda dengan busana komposisi Bedhaya yang lebih kemudian, busana dari rias Bedhaya Semang mirip dengan busana dan rias mempelai wanita istana. Busana dan rias yang demikian ini memang sangat cocok untuk menggambarkan tari yang memiliki makna sakral, yaitu hubungan sakral dan spiritual antara Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Hubungan ini tetap dilestarikan oleh raja-raja keturunan Senopati. Karena tari puteri ini sangat dikeramatkan, kemudian sejak zaman Sultan Hamengku Buwana V (1823-1855) ditarikan oleh para penari pria remaja, untuk menghindari gangguan yang tidak diharapkan selama pertunjukan. Menurut tradisi kraton Yogyakarta, Bedhaya Semang tidak boleh ditarikan oleh wanita-wanita yang telah menikah atau gadis-gadis yang sedang dalam keadaan haid.
Wayang Wong Mataraman sama usianya dengan Kota Yogyakarta dan menanjak lagi pada zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwana V (1822–1855) dan menurut catatan, pada pemerintahannya pernah dipergelarkan tidak kurang dari lima lakon yakni: Pragolomurti, Petruk dados Ratu, Rabinipun Angkawijaya, Joyosemadi dan Pregiwo-Pregiwati. Pembacaan kandha juga berawal pada zaman itu, sedang yang diserahi tugas untuk pembuatan Serat Kandha tersebut adalah Sudirowicitro yang selain sebagai penari teras peran Bima, juga seorang dalang yang kenamaan pada zaman itu. Pada periode itu kostum (busana) wayang wong meminjam seragam prajurit kraton, seperti udheng gilik, songkok dan rampek (Haryanto, 1988).
Pada zaman pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana V hanya terjadi dua kali pergelaran dengan lakon Sri Suwela dan Pregiwa-Pregiwati. J. Groneman ikut menyaksikan pergelaran lakon Pregiwa dan tak lama kemudian terbitlah bukunya yang diberi judul De wayang orang pregiwo in den kraton te Yogyakarta, in Juni 1899. Selama bertugas di Hindia Belanda dari tahun 1869–1899 ia hanya dapat menyaksikan wayang wong gaya Mataram sebanyak tiga kali, yang pergelarannya memakan waktu empat hari (hanya sampai sore hari, karena kraton waktu itu belum pasang listrik), dan didukung oleh 150 orang seniman.

C. Aspek Sosial Budaya Kraton
Kemudian wayang wong gaya Mataram tersebut mencapai titik kulminasinya pada masa Sultan Hamengku Buwana V. Sebuah pengumuman disebar ke seluruh kawasan Yogyakarta yang menyatakan, mereka (laki-laki) yang bisa menari, agar berkumpul di kraton untuk diseleksi dan selanjutnya digembleng secara intensif. Ternyata pengumuman tersebut mendapat sambutan dari kawula (masyarakat) Yogyakarta dengan luar biasa, sehingga pada zaman itu benar-benar terjadi wayang wong kolosal dan pernah pula mencapai jumlah 800 seniman yang mendukung sebuah pergelaran. Pembaharuan besar-besaran yang telah dipersiapkan sejak lama oleh empu-empu tari istana dikeluarkan dalam pergelaran tersebut (Haryanto, 1988).
Gaya Mataram dipandang lebih asli daripada gaya Surakarta, barangkali menjadi alasan mengapa banyak di kalangan dalang rakyat – tidak hanya yang berasal dari daerah Yogyakarta saja, seperti nantinya akan kita ketahui – menganggap gaya mereka sebagai gaya Mataram, bertentangan dengan gaya kraton-kraton yang lebih canggih.
Ada empat gong ageng yang digantung pada gamelan Kodhok Ngorek, yaitu dua untuk penggunaan yang biasa, dan dua dianggap sebagai gong pusaka yang bernama Kanjeng Kyai Mahesa Ganggang dan Kanjeng Kyai Sima. Sumber dari Kraton Yogyakarta mengatakan bahwa untuk beberapa lagu yang jarang dimainkan seperti gendhing Kodhok Ngorek Ayam Sepenan, Sultan Hamengku Buwana I menambah beberapa instrumen yaitu: satu saron demung (metalofon perunggu berukuran besar), dan dua saron barung (metalofon perunggu berukuran sedang). Gamelan Kodhok Ngorek biasa dimainkan pada :
a. Upacara pertemuan pertama dari pasangan mempelai istana,
b. Pada hari lahir Sultan
c. Pada upacara khitan putera-putera Sultan
d. Pada upacara garebeg, yaitu pada waktu gunungan-gunungan yang berupa makanan dan sayuran yang disusun berbentuk gunung dibawa ke kraton sebelum dibagi-bagikan kepada rakyat
e. Untuk mengiringi upacara penobatan Sultan
f. Pada puncak adegan perang antara dua kesatria perkasa seperti Bima (Werkudara) melawan Diradasura dalam lakon Mintaraga
g. Pada masa lampau dimainkan pada saat harimau-harimau dilepaskan di Alun-Alun Utara pada pertandingan rampogan macan untuk beramai-ramai membunuh harimau-harimau itu bila melarikan diri,
h. Atau dimainkan pada waktu pertandingan perkelahian antara seekor harimau melawan seekor kerbau.
Gamelan Kodhok Ngorek hanya memainkan gendhing Kodhok Ngorek dan gendhing Nalaganjur. Dua orang dalang ayah dan anak dari Tempel, Sleman mengatakan bahwa dalang-dalang desa, seperti halnya mereka dan teman-temannya, yaitu dalang-dalang yang tidak pernah bermain di kraton, masih tetap menggunakan gaya Mataram di dalam pergelaran mereka dengan mementaskan lakon-lakon yang mereka warisi dari para leluhur mereka. Mereka yakin bahwa apa yang mereka lakukan bagaimanapun berbeda dengan yang di kota, di sana dalang-dalang itu (yang mereka maksudkan ialah dalang-dalang kraton) bermain dalam gaya Kraton Yogyakarta, membawakan lakon-lakon yang diambil dari Purwakandha, buku panduan dari Hamengku Buwana I. Pendapat dua orang dalang dari Tempel ini, walaupun tidak sepenuhnya benar karena tradisi Yogyakarta yang dikenal sebagai Purwakandha tersebut baru tersusun pada masa Hamengku Buwana V .
Kitab Purwakandha tersebut mengandung pengertian bahwa asal-usul ragam Yogyakarta di dalam tradisi dalang tersebut sejalan dengan lahirnya dinasti. Masalah kapan ragam perbedaan tersebut dituliskan bagi dalang-dalang ini tampaknya memang benar-benar tidak relevan, sebab sebagaimana ditunjukkan dengan jelas dalam keterangan mereka, mereka sendiri tidak mendalang dengan gaya kraton. Sebaliknya mereka mengakui tradisi yang diwarisi dari para leluhur mereka yaitu yang dinamakan gaya Mataram, tetapi yang lebih tepat dinyatakan dengan istilah gaya kerakyatan.
Pada tahun 1939 terdapat perubahan dalam penataan perayaan perkawinan di istana. Dari tahun 1939 dan seterusnya, kepatihan tidak dipergunakan lagi sebagai bagian dari upacara perkawinan kerajaan. Kedua mempelai tidak lagi tinggal di kepatihan selama enam hari setelah upacara akad nikah, melainkan mereka tinggal di kasatriyan, yaitu istana bagian timur dari kedhaton. Kita tidak tahu jumlah yang pasti dari penari yang terlibat di dalam sebuah produksi wayang wong yang utuh pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I. Tetapi kita bisa mengestimasi bahwa produksi itu ditarikan oleh lebih dari seratus orang penari.
Pada waktu itu status sosial para penari istana sangat tinggi. Semua Sultan dari Kraton Yogyakarta adalah penari. Sultan Hamengku Buwana I bisa menari bersama Putera Mahkota (kemudian sebagai Sultan Hamengku Buwana II) sebagai pasangannya. Sultan Hamengku Buwana V adalah penari besar. Sultan Hamengku Buwana VIII biasa menarikan peranan Abimanyu pada waktu belum naik tahta. Sultan Hamengku Buwana IX semasa mudanya sering membawakan peranan Gatutkaca. Tari merupakan bagian dari pendidikan di kraton. Dengan tari para pangeran dan para puteri, para kerabat Sultan serta pada abdi dalem Sultan belajar etiket, etika, bahasa, kesusasteraan dan disiplin (Soedarsono, 1997).
Sebagai raja agung binathara, Sultan Hamengku Buwana V sangat peduli kepada perkembangan kebudayaan. Kesenian dan kesusasteraan didukung penuh, sehingga para seniman dan sastrawan semangat untuk berkreativitas. Bila perlu Sultan Hamengku Buwana V sanggup membiayai ongkos produksinya.
Sebagai contoh bangunan Taman Sari atau Waterkasteel yang terletak di samping barat kraton. Sepintas lalu tampaknya hanya sebuah tempat istirahat dan hiburan saja. Tetapi barang siapa mau meneliti “Istana di atas air” satu-satunya di Pulau Jawa ini, akan menemukan juga di sana jalan-jalan kecil dalam tanah yang menembus ke beberapa jurusan, berbelok-belok sehingga ada yang menembus ke luar kota. Bangunan ini juga dilengkapi dengan aliran air, dan jika pintu-pintu airnya ditutup maka seluruh Taman Sari akan berubah menjadi sebuah danau besar, segala yang ada di sekelilinginya akan lenyap dari pemandangan. Dalam keadaan demikian, kraton dapat dikosongkan dengan mengambil jalan di dalam tanah . Komposisi antara sitihinggil, pagelaran, alun-alun dan pasar itu mengandung makna simbolik. Juga keberadaan Gunung Merapi, kraton dan laut kidul itu mempunyai arti khusus.
Jelas di sini pertimbangan dari segi pertahanan dan keamanan telah mendasari pembangunannya. Khusus tentang Taman Sari, berbagai catatan mengatakan bahwa yang membangun adalah seorang berbangsa Portugis. Tetapi gaya Portugis tak dapat ditemukan di dalamnya. Seorang ahli Belanda bernama P.J. Veth dalam bukunya Java telah membantah pendapat tersebut dan menegaskan bahwa Taman Sari benar-benar bangunan bercorak Jawa asli (Kustiniyati, 1982). Studi tentang arsitektur Jawa akan memperkaya khasanah kebudayaan nasional. Data yang ada menunjukkan bahwa segera setelah Perjanjian Giyanti berlaku, Sri Sultan Hamengku Buwana I menitahkan untuk membangun ibukotanya dengan kraton sebagai pusat dan permulaan bangunannya. Pembangunan ini dipimpin langsung oleh raja yang ahli dalam bangunan, sementara ia sendiri memilih bertempat tinggal di Istana Ambar Ketawang di samping Gunung Gamping, lebih kurang 5 km di sebelah barat Yogyakarta. Pokok dari kraton yang dibangun ketika itu terdiri dari bangunan-bangunan yang diberi nama berbeda-beda sesuai dengan kepentingannya . Kraton Yogyakarta itu bukan milik sultan pribadi, tetapi juga dipersembahkan buat seluruh rakyatnya.

D. Peran Seni dan Sastra
Sultan Hamengku Buwana V sangat menghargai peranan pujangga. Secara etimologis kata pujangga berasal dari bahasa Sansekerta yaitu bujangga, yang berarti (1) ular dan (2) pengikut seorang raja. Bujangga juga dapat diartikan sebagai cendekiawan dan rohaniawan. Pengertian pujangga menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah pandita, pertapa, orang yang cerdik pandai, pengarang, penyair, sajak, ahli sastra kepujanggaan, sifat-sifat pujangga, pengarang, pandita mengenai kesusasteraan pengarang (Poerwadarminta, 1980: 772).
Seorang pujangga harus memiliki kemampuan nawungkridha dan sambêgana. Sambêgana artinya kuat ingatan, dan nawungkridha berarti waskitha atau mengetahui rahasia segala sesuatu dengan ketajaman pandangan batinnya (Kuntjaraningrat. 1984). Seorang pujangga dalam sastra pewayangan biasanya memimpin sebuah padepokan atau pertapaan. Misalnya Pertapan Kendhalisada, Pertapan Talkanda, dan Pertapan Sukalima. Pujangga di mata masyarakat eksistensinya sangat berwibawa dan berpengaruh, karena dianggap dapat membaca alam nyata dan ghaib.
Pujangga istana berfungsi untuk menjaga kewibawaan raja dengan jalan mengaktualkan ajaran tradisi agar dapat dipahami oleh masyarakat luas. Fungsi pujangga istana sebagai pendukung wibawa raja tak akan terjadi tanpa ada karya sastra Jawa Kuna. Hanya saja, fungsi ini kerap menjadi bias, karena seolah-olah pujangga selalu membenarkan tindakan raja. Karena sudah menjadi alat legitimasi kekuasaan, kewibawaannya dapat merosot dan biasanya dikontrol oleh pujangga lain yang mempunyai dukungan arus bawah.
Selain itu Sultan Hamengku Buwana V juga mendukung seni wayang wong. Pertunjukan wayang wong pada zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwana V sangat digemari. Sultan pernah menyelenggarakan pertunjukkan wayang wong besar-besaran sebanyak dua kali, yaitu dengan lakon Jayasemadi dan lakon Pragolamurti (Bragolamurti). Pendapat ini berdasarkan pada manuskrip milik Kraton Yogyakarta serta laporan dari Groneman dalam bukunya De Wayang Orang Pregiwa in den Kraton te Yogyakarta yang diterbitkan pada tahun 1899 yang menjelaskan, bahwa sewaktu ia berdinas pada pemerintah Belanda, dari tahun 1869 sampai 1899 ia menyaksikan tiga kali pertunjukkan wayang wong besar.
Pada akhir tahun 1760-an, situasi politik Jawa Tengah dapat dikatakan stabil. Alternatif-alternatif bagi pembagian kerajaan, semakin lama semakin memudar. VOC sudah mapan memainkan peran sebagai penguasa daerah pesisir. Campur tangannya dalam kejadian-kejadian sosial politik tidak lagi diikuti dengan kekuatan militer (Ricklefs, 1995: 153-154). Karena kesempatan untuk berpolitik sudah menyempit, maka kalangan elit bangsawan kerajaan Mataram (Surakarta, Yogyakarta, Paku Alaman, dan Mangkunegaran) mengalihkan perhatian mereka ke bidang sastra budaya (Ricklefs, 1995; 192). Sastra Jawa Kuno dan sastra impor yang bercorak Islam mereka kembangkan.
Konflik politik yang berkepanjangan pada zaman pra-Surakarta mendorong tumbuhnya karya cipta sastra yang berisi petunjuk cara mengabdi. Hal ini berfungsi sebagai salah satu jalan untuk mempersatukan kekuatan masyarakat di bawah naungan istana. Cakrawala pembentukan kekuasaan kerajaan yang tercermin dalam sêrat piwulang zaman pra-Surakarta bergeser ke cakrawala pembentukan pribadi yang ideal (Sudewa, 1989: 393).
Refleksi atas tokoh Arjuna yang dilukiskan dalam Sêrat Wiwaha Jarwa oleh Paku Buwana II menunjukkan usaha kalangan istana untuk menggambarkan sifat manusia ideal. Tokoh Arjuna dalam Wiwaha Kawi Jarwa saat itu sangat populer di luar kraton. Sêrat Cêbolèk menggambarkan tokoh Bima sebagai manusia ideal yang telah mencapai pamoring kawula gusti atau manunggalnya hamba dan tuan. Kalangan kraton memahaminya sebagai manusia ideal yang dapat mengintegrasikan paham tasawuf dan paham syariat.
Gambaran manusia ideal tampak juga pada Sêrat Cênthini, karya sastra besar yang merupakan pengolahan genre sastra santri lêlana atau santri mengembara yang populer dalam masyarakat Jawa. Sêrat Cênthini menyebutkan bahwa santri pengembara ini bukan sekedar santri biasa, melainkan tokoh terkenal, yaitu putra-putri dinasti Giri yang telah hilang kekuasaan politiknya. Tujuan penulisan Sêrat Cênthini bukan hanya uraian agama dan pendataan budaya saja, melainkan juga berusaha menggariskan watak manusia ideal bukan dengan alat sastrawi mitologi pewayangan, namun tokoh manusia nyata yang direka dan diletakkan dalam cakrawala historis.
Sastra mistik yang terkenal di lingkungan budaya Jawa adalah Sêrat Wédhatama karya Mangkunegoro IV. Dalam sêrat ini diuraikan tingkat-tingkat cara seseorang untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Gambaran manusia ideal tersebut mungkin berkaitan dengan kekuasaan dan kewibawaan raja. Sêrat-sêrat babad tidak ada yang melukiskan bahwa kraton merasakan kemerosotan wibawanya. Babad Giyanti memahami kehadiran bangsa Belanda sebagai perubahan alam belaka. Dalam mithe Sêrat Sêkèbèr dilukiskan bagaimana kedudukan bangsa Eropa dalam struktur masyarakat Jawa. Bangsa Eropa dianggap setaraf dengan keluarga bangsawan Jawa, bahkan kedudukannya di bawah dinasti raja-raja Jawa, sehingga tidak ada perasaan bahwa kewibawaan politiknya telah merosot. Dengan demikian pihak kraton mempunyai sikap akomodatif terhadap kehadiran bangsa Eropa di Mataram (Sudewa, 1989: 397).
Setelah kerajaan Mataram mengalami kemunduran secara politik, justru pusaka sastra Jawa mengalami perkembangan yang sangat pesat. Para raja Jawa setelah Perang Diponegoro ibarat tawanan dalam sangkar emas. Maka perhatiannya dialihkan dalam bidang sastra budaya. Pigeaud menyebutnya sebagai renaissance kesusasteraan Jawa klasik (Karkono Partokusumo. 1998). Pada saat itu merupakan suatu babak baru yang cemerlang dalam sejarah perkembangan kesusasteraan Jawa.
Adapun Kanjeng Kyai Garudhayeksa dibuat di negeri Belanda, pertama kali dipergunakan oleh Sultan Hamengku Buwana V. Kedua kereta ini disebut kereta kencana, yaitu kereta yang berwarna keemasan. Pangeran Purboyo menerangkan kepada kita bahwa kedua kereta kencana tersebut hanya dipergunakan untuk peristiwa-peristiwa khusus saja, seperti misalnya kunjungan resmi oleh Sultan kepada Gubernur Belanda; ketika Sultan yang baru dinobatkan melakukan Kirab-Dalem, yaitu prosesi sekeliling tembok yang melingkari kraton setelah upacara penobatan; untuk mengantarkan puteri Sultan ke stasiun kereta api ketika puteri itu pergi ke Surakarta untuk bertemu dengan mempelai prianya yaitu Susuhunan Paku Buwana X; menjemput Gupernur Jenderal Belanda dan para pejabat tinggi Belanda lain di stasiun kereta api, serta mengangkut mereka ke kraton untuk resepsi resmi. Nyai Jimat dan Kanjeng Kyai Garudhayeksa setiap tahun dimandikan secara seremonial, dan masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa air yang telah dipergunakan untuk membersihkan kedua kereta itu memiliki kekuatan magi untuk menyembuhkan penyakit. Kedua kereta itu sekarang ditempatkan di sebuah bangunan khusus di sebelah barat-daya Alun-Alun Utara.
Garudhayeksa yang berarti “Garudha Raksasa” memberi indikasi bahwa Sultan Hamengku Buwana mengidentifikasikan dirinya dengan Dewa Wisnu, karena burung garuda adalah kendaraan Wisnu (Kuntoro Wiryamartana, 1960). Apabila kita sekarang berdiri di Bangsal Witana dan memandang 180 derajat ke utara sebagaimana jaman dulu para sultan duduk sinewaka atau bertahta, mata kita akan bertemu dengan tiga titik. Dua titik adalah dua pohon beringin tersebut dan titik ketiga, yang letaknya lebih jauh, adalah Tugu yang dianggap sebagai lambang pertemuan pokok kekuatan alam yang positif dan negatif. Jaman dulu tempat waringin kurung itu juga merupakan tempat rakyat menghadap Baginda Raja untuk mengadukan nasib atas perlakuan atasan terhadap mereka atau atas suatu keputusan hakim yang dirasakan tidak adil. Untuk jaman sekarang, hal ini dapat disamakan dengan tempat naik banding ke peradilan yang lebih tinggi.

E. Pusaka Kraton
Kraton memang banyak menyimpan benda pusaka, baik berupa senjata maupun benda seni. Gamelan Monggang Kraton Yogyakarta diberi nama Kanjeng Kyai Guntur Laut yang berarti “Yang Mulia Guntur dari Laut”, yang memiliki skala tiga nada yaitu lima (nada 5), nem (nada 6), dan penunggul (nada 1) dengan sistem tangga nama slendro. Berdasarkan catatan koleksi gendhing dari kraton Yogyakarta, Kanjeng Kyai Guntur Laut diserahkan ke Kraton Yogyakarta pada tahun Jawa 1628 atau 1755 M, pada Perjanjian Giyanti (Kunst, 1973). Karena gamelan ini termasuk gamelan pusaka. Gamelan ini terdiri dari empat rancakan (rak) bonang, masing-masing rancakan berisi tiga bonang besar; satu kenong besar yang agak datar (kenong japan); dua penontong yang juga disebut bedhe: dua gong ageng (gong besar), satu di antaranya bernama Kanjeng Kyai Lindhu; satu pasang rojeh; satu kendhang gendhing, yaitu gendang besar berkepala dua, dan satu ketipung, yaitu gendang kecil berkepala dua. Gamelan Monggang biasanya hanya dimainkan untuk peristiwa-peristiwa yang sangat khidmat yang dihadiri orang banyak; misalnya untuk menambah kemegahan kedatangan tamu yang sangat terhomat; selama permainan watangan atau sodoran pada setiap hari Sabtu di masa lampau; untuk jamuan makan resmi pada malam hari pada lima tanggal ganjil terakhir dari bulan Puasa (bulan Siyam atau Ramadhan) yang disebut maleman yang diselenggarakan pada tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29; untuk pertemuan resmi dari pasangan pengantin kerajaan; pada upacara garebeg, yaitu perayaan keagamaan yang besar tiga kali setahun: Garebeg Besar (memperingati akhir dari ibadah haji di Mekah), Garebeg Pasa atau Garebeg Sawal (memperingati akhir dari bulan Puasa), dan Garebeg Mulud (memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad); dan dahulu bila sepucuk surat dari salah seorang raja Jawa atau dari Gubernur Jenderal datang, pada upacara penobatan Sultan; dan juga pada upacara pemberangkatan jenazah Sultan dari Bangsal Kencana menuju ke makam raja-raja Jawa di Imogiri (Soedarsono, 1957). Gendhing Monggang tidak ditabuh pada sembarang tempat dan waktu.
Resmilah Dorojatun menjadi Sultan Hamengku Buwana IX, menggantikan ayahanda yang 19 tahun sebelumnya dinobatkan sebagai Hamengku Buwana ke VIII di tempat yang sama. Ia lalu dipersilakan duduk di atas singgasana Kesultanan yang berada di sebelah kanan kursi Gubernur Adam, menghadap ke arah utara. Di sebelah kanan pula ia berjalan, ketika bersama-sama Gubernur melangkah meninggalkan Siti Hinggil selepas upacara penobatan yang megah itu (Kustiniyati, 1982). Gamelan Monggang yang ditabuh itu berkumandang mengiringi penobatan Sri Sultan Hamengku Buwana V.
Karena permainan watangan atau sodoran selalu diselenggarakan pada hari Sabtu, gamelan Monggang di Kraton Yogyakarta juga sering disebut Gangsa Setu (gamelan Sabtu). Gamelan Monggang yang dahulu mengiringi permainan watangan di daerah pesisir dan mancanegara pada hari Senin lazim pula disebut sebagai Gamelan Senen. Karena fungsi ritualnya yang sangat khidmat ini, gamelan Monggang hanya memainkan satu lagu (gendhing) khusus yang disebut gendhing Monggang. Kanjeng Kyai Guntur Laut diperkirakan merupakan warisan dari Dinasti Majapahit (Sri Mulyono. 1989). Hingga saat ini Kyai Guntur Laut tetap dianggap keramat.

F. Penutup
Tabiat raja diucapkan oleh Ki Dalang wayang kulit sebagai adil parimarmeng dasih, ber budi bawa laksana, anggaganjar saben dina (adil mencintai kawulanya, murah hati berwibawa memberi dana bantuan setiap hari). Keampuhan sabda raja merupakan “Sabda Pandhita Ratu, tan kena wola-wali, artinya: satu kata dan perbuatan, tak berulang-ulang. Itulah lukisan sifat seorang raja yang adil, tak memandang bulu, bahkan raja dipuji disanjung agar menjadi pelindung dunia.
Pembicaraan mengenai raja dan kekuasaan tidak dapat dipisahkan dari konsep spiritual yang berasal dari kultur India, yaitu kepercayaan adanya kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara jagat raya dan dunia manusia. Menurut kepercayaan itu, manusia selalu berada di bawah pengaruh tenaga-tenaga yang bersumber pada penjuru mata angin, pada bintang-bintang, dan pada planet-planet. Tenaga-tenaga itu dapat menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan, tetapi juga sebaliknya, dapat membawa kehancuran. Hasil yang diperoleh itu sangat bergantung pada mampu atau tidaknya individu atau kelompok-kelompok dalam masyarakat, terutama sekali raja, dalam menyelaraskan kehidupan dan kegiatan mereka dengan jagat raya. Keselarasan antara kerajaan dan jagat raya dapat dicapai dengan cara menyusun kerajaan itu sebagai jagat raya dalam bentuk kecil. Mengenai konsepsi kekuasaan dalam kebudayaan Jawa, Anderson mengemukakan, bahwa dalam usahanya untuk memperoleh, menghimpun, dan mempertahankan kekuasaannya, raja Jawa melakukan tindakan-tindakan yang menekan hawa nafsu misalnya berpuasa, bersemedi, bertapa, melakukan pemurnian ritual dan sebagainya.
Jumlah kekuasaan dalam alam semesta itu selalu tetap, maka raja atau penguasa selalu berusaha agar kekuasaan di pusat tidak surut. Caranya dengan melakukan penyerapan kekuasaan yang terdapat pada benda-benda dan orang-orang tertentu yang ada di sekitarnya. Selain itu, Anderson juga mengemukakan konsepsi, bahwa kekuasaan Jawa tidak mempermasalahkan cara pelaksanaan konsepsi itu secara wajar. Hamengku Buwana V sadar sepenuhnya akan dimensi kultural dari keberadaan Kraton Ngayogyakarta. Ajaran Pangracutan dari Sri Sultan Agung, tidak hanya dihayati secara pribadi, melainkan juga dilaksanakan secara sosial. Racut, yaitu Warangka Manjing Curiga, Curiga Manjing Warangka, yaitu rumusan lain dari Pamoring Kawula Gusti akan dipahami sepenuhnya oleh mereka yang telah mencapai pengalaman Eneng-Ening. Perjuangan Sultan Hamengku Buwana V diurai secara kronologis, dengan disertai contoh-contoh perilaku luhur yang pantas dijadikan kaca benggala bagi bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA


Budiono Heru Satoto. 1987. Simbol isme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.
Damardjati Supadjar. 1993 Nawangsari. Yogyakarta: MW Mandala.
Darsiti Suratman. 1989. Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1939. Yogyakarta: Disertasi UGM.
Haryanto. 1992. Bayang-bayang Adiluhung: Filsafat Simbolisme dan Mistik dalam Wayang. Semarang: Dahara Prize.
Karkono Partokusumo. 1998. Falsafah Kepemimpinan dan Satria Jawa dalam Perspektif Budaya. Jakarta: Bina Rena Pariwara.
Kuntjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Kuntoro Wiryamartana. 1960. Arjuna Wiwaha: Transf-ormasi Teks Jawa Lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Kustiniyati, 1982. Tahta Untuk Rakyat. Gramedia : Jakarta.
Purwadarminta. 1985. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Ricklefs, 1995. Se4ajrah Indonesia Modern. Yogyakarta : Gamapress.
Soedarsono, 1997. Seni Pertunjukan Wayang Wong. Yogyakarta : Gama Press.
Sri Mulyono. 1989. Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang. Jakarta : Haji Masagung.
Sudewa, 1989. Serat Paniti Sastra. Jakarta : Djambatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar